Kalimat ini bukan sekadar cerita, melainkan bukti nyata dari jutaan Petani Indonesia yang telah merasakan langsung manfaat produk Natura. Formula khususnya meresap ke dalam tanah, menghidupkan kembali unsur hara, dan menghasilkan tanaman yang kuat serta tahan penyakit. Saatnya beralih ke yang sudah terbukti.
Panen Buah Kelapa Sawit Meningkat Pesat
Bapak Paino setelah panen buah Kelapa Sawit menggunakan Pupuk Hayati Natura.
Saya adalah petani transmigrasi di JAMBI. Saya memiliki kebun Kelapa Sawit. Sebelumnya penghasilan dari kebun Sawit saya hanya 1 ton/ hektar/ bulan. Dari awal saya sudah menggunakan pupuk kimia. Namun karena di wilayah kami sangat sulit mendapatkan pupuk kimia, dan kalaupun ada, harganya sangat mahal.
Cabe Rawit yang ‘Mati’ Tumbuh Kembali dan Berbuah Lebat
Bapak Sumo. Petani Cabe dan Kelapa Sawit di Bukit Tinggi, Jambi
Awalnya saya mencoba menanam cabe rawit di antara tanaman Kelapa Sawit yang belum tinggi. Saya menggunakan pupuk kimia sisa dari pemupukan Kelapa Sawit. Setelah panen beberapa kali, akhirnya tanaman cabe saya biarkan begitu saja, tidak diurus lagi. Lama kelamaan tanaman cabe jadi mulai menurun
Pupuk Hayati NATURA Meningkatkan Produktivitas Tembakau di Leles, Garut
Petani Tembakau di Leles, Kabupaten Garut
Aplikasi Pupuk Hayati Unggul NATURA pada tanaman Tembakau di Leles, Garut sudah dilakukan di beberapa kelompok tani Tembakau. Pemberian NATURA secara rutin dan teratur, membeikan respon positif terhadap pertumbuhan tanaman Tembakau. Indikator yang dapat diamati dilihat dari tinggi tanaman, lebar dan tebal daun serta peningkatan serapan N pada tembakau.
Sawah Menghasilkan Padi 11 ton/ Hektar GKG
Bapak H. Uri, Petani Padi. Desa Laksanamekar, Kabupaten Bandung Barat
Pada tahun 2008 akhir, ada tim pupuk hayati NATURA memperkenalkan produk ini ke desa kami. Saat itu Bapak sangat antusias bertanya dan berharap dapat mencoba pupuk ini di sawah milik Bapak. Pada musim pertama penanaman menggunakan pupuk ini, ada peningkatan hasil panen dari hanya 4 ton/ hektar, menjadi 7 ton/ hektar
Anggur Brazil Berbuah dan Manis Setelah Menggunakan NATURA
Bapak Tedy Wijaya. Petani Jaboticaba. Cikole, Lembang
Saya sangat hobi berkebun dan menanam tanaman-tanaman unik dan langka. Salah satu kebun saya menanam tanaman khas dari Brazil, yaitu Jabotikaba atau dikenal dengan Anggur Brazil. Tanaman Jabotikaba ini saya tanam dari bakalan batang yang sudah besar dan rata-rata berumur 5 – 8 tahun.
Hasil Cabe Meningkat Berkat NATURA
Aplikasi NATURA pada Tanaman Cabe di Cisarua
Sambil menyusuri kebun yang kini rimbun oleh tanaman cabe, beliau kembali menuturkan dengan semangat. “Setelah mengikuti anjuran saudara dan tetangga saya di desa, saya mulai menggunakan pupuk hayati NATURA untuk tanaman Cabe saya. Hingga saat ini saya dapat menikmati sukses menanam cabe pada lahannya seluas 1000 M2. Peningkatan produksi tanaman Cabe saya mencapai 2 kali lipat dari panen sebelumnya yang menggunakan pupuk kimia”.
Pupuk NATURA Meningkatkan Jumlah Anakan Tanaman Padi dan Panen 10 Ton (GKG)
Bapak Juandi, Petani Padi di Desa Laksanamekar, Kabupaten Bandung Barat
Sebelum saya menggunakan pupuk hayati NATURA, hasil panen gabah kering hanya 4,5 ton pada musim hujan dan 3,5 ton pada musim kemarau. Padahal sistem budidaya padi sudah dilakukan secara intensif.
Sukses Beternak Ayam Broiler dengan NATURA Enzim Ternak
Bapak Ana, peternak Ayam Broiler di Padalarang yang sudah mengaplikasikan Enzim
“Alhamdulillah, pertumbuhan DOC melaju pesat dengan kematian yang rendah, hanya kurang dari 1%. Bobot ayam 1 kg tercapai lebih cepat dari biasanya (kontrol), paling tidak 2 – 3 hari lebih cepat. Kondisi kandang lebih bersih, karena kotoran ayam tidak becek (lembek) dan tidak berbau seperti selama ini”.
Bagaimana Supaya Panen Padi Meningkat Minimal 8 ton/ hektar…???
Panen perdana Padi menggunakan Pupuk Hayati di Blater – Purbalingga
Panen padi perdana dengan uji coba pupuk hayati unggul NATURA di Blater, Kabupaten Purbalinggang, mulai memperlihatkan hasilnya. Penggunaan pupuk NATURA tanpa penggunaan pupuk kimia ternyata mampu meningkatkan hasil produksi dari 5 ton menjadi 8 ton gabah kering giling (GKG) per hektar.