
Dikutip dari tulisan Kabelan Kunia di Kolom Cakrawala, Harian Pikiran Rakyat, edisi 01 April 2009
Pertanian organik yang semakin berkembang belakangan ini menunjukkan adanya kesadaran petani dan berbagai pihak yang bergelut dalam sektor pertanian akan pentingnya kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Revolusi hijau dengan input bahan kimia telah memberi bukti bahwa lingkungan pertanian menjadi hancur dan tidak lestari. Pertanian organik kemudian dipercaya menjadi salah satu solusi alternatifnya.
Pengembangan pertanian organik secara teknis harus disesuaikan dengan prinsip dasar lokalitas. Ini yang penting. Artinya pengembangan pertanian organik harus disesuaikan dengan daya adaptasi tumbuh tanaman/ binatang terhadap kondisi lahan, pengetahuan lokal teknis perawatannya, sumberdaya pendukung, manfaat sosial tanaman/ binatang bagi komunitas.
Pertanian organik memandang alam secara menyeluruh, komponennya saling tergantung dan menghidupi, dimana manusia adalah bagian di dalamnya. Prinsip ekologi dalam pertanian organik didasarkan pada hubungan antara organisme dengan alam sekitarnya dan antar organisme itu sendiri secara seimbang. Pola hubungan antara organisme dengan alamnya dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sekaligus sebagai pedoman atau hukum dasar dalam pengelolaan alam, termasuk pertanian.
Dalam pelaksanaannya, sistem pertanian organik sangat memperhatikan kondisi lingkungan dengan mengembangkan metode budidaya dan pengolahan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Sistem pertanian organik diterapkan berdasarkan atas interaksi tanah, tanaman, hewan, manusia, mikroorganisme, ekosistem dan lingkungan dengan memperhatikan keseimbangan dan keanekaragaman hayati. Sistem ini secara langsung diarahkan pada usaha meningkatkan proses daur ulang alami daripada usaha merusak ekosistem pertanian (agroekosistem). Sistem ini mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi pada sumber daya lokal yang ada.
Pertanian organik banyak memberikan kontribusi pada perlindungan lingkungan dan masa depan kehidupan manusia. Pertanian organik juga menjamin keberlanjutan bagi agroekosistem dan kehidupan petani sebagai pelaku pertanian. Sumber daya lokal dipergunakan sedemikian rupa sehingga unsure hara, bimassa dan energi bisas ditekan serendah mungkin serta mampu mencegah pencemaran.
Bahan Alami
Pemanfaatan bahan-bahan alami lokal yang ada di sekitar lokasi pertanian seperti limbah produk pertanian itu sendiri sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik seperti kompos sangat efektif mereduksi penggunaan pupuk kimia sintetis yang jelas-jelas tidak ramah lingkungan. Demikian juga dengan pemnafaatan bahan alami seperti tanaman obat yang ada untuk dibuat racun hama akan mengurangi penggunaan bahan pencemar bahaya yang diakibatkan oleh pestisida, fungisida dan insektisida kimia.
Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan. Di samping itu banyak mikroorganisme di alam yang memiliki kemampuan untuk mereduksi dan mendegradasi bahan-bahan kimia berbahaya yang diakibatkan pencemaran dari bahan racun yang digunakan dalam aktivitas pertanian konvensional seperti racun serangga dan hama.
Dengan kemajuan teknologi, pertanian organik adalah pertanian ramah lingkungan yang murah dan berteknologi sederhana (tepat guna) dan dapat dijangkau oleh semua petani di Indonesia.
Serangga hama dan musuh alami merupakan bagian keanekaragaman hayati. Serangga hama memiliki kemampuan berbiak yang tinggi untuk mengimbangi tingkat kematian yang tinggi di alam. Keseimbangan alami antara serangga hama dan musuh alami sering dikacaukan oleh penggunaan insektisida kimia yang hanya satu macam. Pertanian organik mengandalkan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan.
Reduksi Gas Rumah Kaca
Pertanian organik bukan hanya baik bagi kesehatan, tetapi baik juga bagi
lingkungan bumi. Beberapa ahli pertanian Amerika Serikat yakin pertanian organik merupakan cara baru mengurangi gas-gas rumah kaca yang menyumbang pemanasan global. Tanaman yang tumbuh dengan pupuk organik akan memberikan hasil sama, namun dengan karbondioksida jauh lebih kecil.
Laurie Drinkwater, ahli managemen tanah dan ekologi Rodale Institute di Kutztown, Pennsylvania, AS bersama koleganya membandingkan pertanian organik dengan metoda sebelumnya yang menggunakan pupuk kimia selama 15 tahun. Hasilnya yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature, Desember 1998, jika pupuk organik digunakan dalam kawasan pertanian kedelai utama di AS, maka setiap tahun karbon dioksida di atmosfer dapat berkurang 1-2%.
Fakta ini sangat penting, karena menurutnya sampai sekarang dunia, khususnya Amerika sangat bermasalah dengan senyawa karbondioksida dan dampak potensialnya pada perubahan cuaca.
Drinkwater mengatakan pengurangan ini merupakan kontribusi yang sangat berarti. Karena negara-negara industri sepakat dalam pertemuan Bumi di Kyoto Jepang, untuk mengurangi emisi karbondioksida sampai 5,2% dari tahun 1990, pada tahun 2008-2012. Dalam penelitian ini juga ditemukan, pertanian organik menggunakan energi 50% lebih kecil dibanding metode pertanian konvensional.
Demikianlah bahwa fakta mengungkapkan bahwa sistem pertanian organik adalah pertanian yang ramah lingkungan artinya pelaku sistem pertanian organik telah berusaha tidak merusak dan menganggu keberlanjutan komponen-komponen lingkungan yang terdiri atas tanah, air, udara, tanaman, binatang, mikroorganisme dan tentunya manusia. Bila kita sudah melakukan ini, termasuk mengkonsumsi produk pertanian organik, sejatinya cerminan pribadi Anda yang ramah lingkungan. (Kabelan Kunia adalah penggiat dan pemberdaya masyarakat tani padi organik ‘SRI” dan praktisi pertanian organik).