Dikutip dari tulisan Kabelan Kunia di Kolom Cakrawala, Harian Pikiran Rakyat, Edisi 09 September 2010

Sistem budidaya pertanian di Indonesia dalam kurun waktu yang panjang mengalami penurunan dalam hal produktivitas, kualitas dan efisiensi. Penurunan terjadi mulai dari luas lahan garapan yang kian menyusut akibat terdesak oleh kegiatan industrialisasi dan perumahan. Produktivitas semakin menukik tajam karena banyak lahan yang hilang kesuburan akibat penggunaan pupuk kimia yang tidak bijaksana. Efisiensi semakin tidak dihiraukan karena dijejali dengan  penggunaan pupuk dan pestisida/ insektisida kimia secara membabi buta. Pemakain bibit yang boros menyebabkan kelangkaan dan kesulitan petani mendapatkan bibit yang baik.

Pemakaian pestisida dan pupuk kimia yang cenderung berlebihan dan tidak terkontrol  pasti mengakibatkan keseimbangan alam terganggu, musuh alami hama menjadi punah, sehingga hama dan penyakit tanaman semakin berkembang dengan pesat, dan adanya residu kimia pada hasil panen. Upaya penghematan penggunaan pupuk dan pestisida kimia menjadi mutlak dilakukan.

Di samping permasalahan di atas, krisis lingkungan karena pencemaran perlu disikapi mengingat dampak negatif yang tidak sedikit bagi manusia dan lingkungan. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah harga pupuk dan anti hama yang mahal, terkadang langka di pasaran serta faktor kolutif lain, dimana mekanisme pasar yang terjadi cenderung memperkaya sebagian kecil orang yang berkepentingan, di samping faktor politis yang tidak memihak petani.

Dari aspek pengelolaan air, usahatani sawah pada umumnya dilakukan dengan penggenangan secara terus menerus, di lain pihak kesediaan air semakin terbatas. Untuk itu diperlukan peningkatan efisiensi penggunaan air melalui usahatani hemat air.

SRI Sebagai Solusi

Teknik budidaya padi SRI (System of Rice Intensification) adalah metoda yang sangat tepat untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut di atas. Bahkan tak kurang Bapak Presiden SBY dalam amanatnya pada panen perdana padi organik ’SRI’ di Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur Jawa Barat, 30 Juli 2007 lalu mengajak kalangan petani, perbankan, pengusaha, dan pemangku kepentingan di bidang pertanian untuk terlibat mengembangkan metode penanaman padi dengan pola intensifikasi ini secara luas.

Pengembangan tanam padi dengan metode SRI, kata Presiden adalah koreksi gerakan revolusi hijau, yaitu upaya meningkatkan produksi padi yang bertumpu pada input kimia. Dengan SRI, menurut presiden peningkatan produksi padi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani akan tercapai. Masalah ketahanan pangan dapat diselesaikan, tetapi caranya tanpa merusak lingkungan. Menurut beliau metode SRI merupakan teknologi usaha tani padi sawah ramah lingkungan, efisiensi input melalui pemberdayaan petani dan kearifan lokal.

Paling tidak ada empat alasan utama perlunya dikembangkannya SRI menurut Menteri Pertanian Dr. Anton Apriantono, yaitu; Pertama, sudah terbukti bahwa metoda SRI mampu menghasilkan produktivitas padi yang tinggi diatas rata-rata nasional, yang pada gilirannya akan memberikan pendapatan yang cukup tinggi bagi petani. Metoda ini diharapkan dapat memotivasi petani untuk dapat mempertahankan dan melestarikan usahatani sawahnya dari ancaman alih fungsi lahan.

Kedua, sudah terbukti bahwa metoda SRI dapat menghemat penggunaan air sampai 40 %. Ketika defisit air terjadi dimana mana yang terkadang dapat menimbulkan konflik sosial, konsep SRI menjadi solusi ampuh untuk keluar dari situasi krisis ini. Penggunaan bibit juga dapat dihemat sampai 80 %, sehingga dapat mengurangi biaya usaha tani.

Ketiga, metode SRI mampu memulihkan kesuburan lahan dan mampu memelihara keberlanjutan produktivitas lahan. Dan keempat, metode SRI dikenal ramah lingkungan karena; a) Memitigasi terjadinya polusi asap akibat berkurangnya pembakaran jerami sehingga mampu menekan emisi gas CO2, b) Memitigasi emisi gas Methan yang dihasilkan oleh proses reduksi (anaerob) akibat penggenangan sawah, c) Mitigasi emisi CO2 dan Methan (CH4) akan menekan produksi GRK (Gas Rumah Kaca) yang dapat memicu pemanasan global, d) Daur ulang limbah (sampah) menjadi prinsip SRI, sehingga penumpukan sampah dapat dihindari, e) Aplikasi bahan kimia (agrochemical) sangat dibatasi, kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan akibat kontaminasi dengan bahan dan residu kimia dapat dicegah, dan f) Produk beras SRI dapat digolongkan sehat, karena tidak diproduksi dengan pupuk kimia dan pestisida sintetis.

Mudah Dipahami

Berdasarkan pengalaman penulis melaksanakan sekaligus memberi pembelajaran kepada petani di beberapa daerah, ternyata metode ini tidak sulit dipahami oleh mereka.  Alasannya sederhana, karena metode ini tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka dapatkan dulu dari para karuhun yang terlebih dahulu menjadi petani. Jauh sebelum masuknya pupuk dan anti hama kimia ke Indonesia, orang tua mereka telah bertani dengan metode yang mirip dengan metode SRI. Orang tua mereka dulu bertani dengan hanya menggunakan sumber daya yang ada di sawah, seperti pupuk dengan menggunakan kotoran hewan, daun dan sampah. Demikian juga dengan anti hama, mereka telah mengenal tumbuhan anti hama yang banyak terdapat di ladang atau di sawah.

Faktor penting dalam penerapan metode SRI di sawah adalah penggunaan pupuk kompos. Setiap hektar sawah membutuhkan minimal 8 ton kompos. Kompos dibuat oleh petani sendiri dengan memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitar, seperti kotoran hewan (KOHE), jerami, dedak padi, rumput, daun dan sampah rumah tangga. Proses pengomposan dilakukan selama musim pemeliharaan tanaman, yaitu 3-4 bulan. Ketika musim tanam berikutnya, petani telah memiliki persediaan kompos yang cukup untuk ditaburi di lahan sawah sebagai pupuk dasar pengganti pupuk urea.

Pemberian kompos dimaksudkan untuk membentuk kembali struktur tanah, sehingga bisa berfungsi sebagai bioreaktor yang akan menggerakkan kembali siklus nutrisi dengan peran utama  mikrorganisme serta biota tanah lainnya.

Kompos digunakan mulai dari saat pengolahan lahan. Pembalikan tanah dilakukan dengan mengguanakan kerbau, traktor atau dicangkul. Setelah proses pengolahan tanah siap, lahan mulai diratakan kemudian dicaplak atau dibuatkan garis jarak tanam, dengan jarak 35 x 35 cm atau 40 x 40 cm dan 45 x 45 cm.

Dalam sistem persawahan biasa, lahan lebih banyak digenangi air, akibatnya pasokan air yang cukup menjadi penting. Sebaliknya pada sistem SRI, kebutuhan air diperlukan hanya setengah hingga sepertiga dari cara konvensional. Lahan sawah dikondisikan lembab atau macak-macak tanpa digenangi. Hal ini memungkinkan terjadinya penghematan penggunaan air sampai 60%.

Bibit tanaman padi yang digunakan adalah bibit yang berumur muda, yaitu antara 7 – 10 hari di persemaian. Kemudian bibit ditanam di lahan sawah dengan jumlah satu bibit untuk satu lubang tanam (dapuran).  Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi persaingan atau kompetisi dalam mendapatkan hara makanan. Tanam bibit tunggal dan jarang dimaksudkan agar pertumbuhan padi menjadi maksimal, anakan yang dihasilkan menjadi lebih banyak dan sehat. Rata-rata anakan yang dihasilkan lebih dari 60 batang. Pertumbuhan ini didukung dengan penyebaran akar yang luas dan kokoh, sehingga memungkinkan akar menyerap nutrisi secara efektif. Sistem ini mengakibatkan penggunaan bibit menjadi lebih sedikit. Untuk satu hektar sawah membutuhkan tidak lebih dari 6 kg bibit.

Penggunaan pupuk kimia tambahan seperti urea, NPK, KCL dan ZA dalam metode SRI ditiadakan. Karena kita tahu persis bahwa pupuk kimia inilah yang menyebabkan terjadinya degradasi kesuburan tanah. Tanah menjadi tandus, sulit menyerap air, tidak respon terhadap unsur hara atau pemupukan, kebanyakan tanah menjadi keras, liat dan membatu. Sebagai gantinya, petani diajarkan membuat pupuk yang berbasis mikroba dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada, seperti buah maja, air kelapa, kotoran ternak, bekicot yang dihancurkan, daun-daunan atau sayur-sayuran. Hasil fermentasi alami dari bahan-bahan ini dapat disemprotkan setiap saat di lahan sawah.

Masalah hama dan penyakit tanaman pada padi dapat dicegah dengan cara pengendalian hama terpadu. Cara ini lebih kepada upaya mengendalikan berbagai unsur-unsur ekosistem di lahan sawah. Cara tanam SRI dapat menekan gangguan hama secara sangat berarti tanpa harus menggunakan bahan kimia antihama.

Menurut pakar SRI dari ITB, Dr. Mubiar Purwasasmita, banyak jenis serangga yang hidup bersama dengan tumbuhnya tanaman padi, namun mereka tidak sempat menjadi hama karena dengan cara seksama kondisi mikro-klimatnya tidak memberi cukup waktu kepada serangga untuk dapat berkembangbiak secara leluasa. Serangan keong pun dapat ditekan karena tanah tidak direndam. Kegiatan pengendalian hama terpadu secara mandiri oleh petani memungkinkan terjadinya penghematan dalam penggunaan racun hama kimia.

Proses penyiangan dilakukan lebih dari 4 kali. Penyiangan ini dimaksudkan bukan saja untuk menghilangkan gulma tetapi terutama untuk menjaga pasokan udara ke dalam tanah. Pengurangan 1 kali penyiangan dapat menurunkan produksi padi hingga 1,2-1,5 ton/ha.

Dalam metode SRI bukan saja tingkat produktivitas padi yang tinggi dapat dicapai tetapi juga meningkatkan struktur dan kondisi lahan sawah serta membaiknya lingkungan hidup biotik di persawahan.

Melalui penerapan metode SRI kita dapat melakukan perubahan untuk peningkatan produksi padi yang lebih tinggi, lebih baik mutunya, lebih sehat dan berkesinambungan, semoga. (Kabelan Kunia adalah penggiat dan praktisi pertanian padi organik ‘SRI’. Peneliti pada Pusat Penelitian Bioteknologi ITB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *